Sebut saja namaku Ali, paling tidak begitulah emak
memanggilku sehari-hari. Pekerjaanku sekarang adalah sebagai penjual pentol
keliling Pekerjaan ini sudah kutekuni semenjak dua tahun yang lalu saat emak
dipanggil oleh Allah. Kemana bapak?? Sampai sekarang aku tidak tau keberadaan
bapakku. Ada yang bilang bapak mengais rejeki di negeri jiran dan tidak pernah
kembali lagi, ada yang bilang bapakku ada di penjara, ada yang bilang bapakku
sudah meninggal, entahlah aku tidak tau mana yang benar. Emak selalu menangis
saat kutanya dimana bapak berada, aku tidak ingin membuat emak menangis, jadi
aku tidak mau terus-terusan menanyakan dimana bapak.
Oh ya, emak meninggal karena sakit, aku juga tidak tau emak
sakit apa, karena emak tidak mau bercerita tentang penyakitnya kepadaku. Emak kerja
sebagai tukang cuci dan setrika keliling. Jadi kalau ada yang pingin nyucikan
baju bisa panggil emakku, namun beberapa tahun terakhir pekerjaan emakku
tergantikan oleh laundry-laundry kiloan yang semakin banyak menjamur di tempatku.
Emak jarang dipanggil mencuci dan itu berakibat berkurangnya penghasilan emak.
“Hai Li, beli pentol ya, belum sarapan nih,”teriak Mbak
Ningsih, salah satu langganan pentolku.
Sejenak aku tergagap dari lamunanku, dan dengan sigap aku
membuka plastik, memasukkan pentol, tahu, gorengan dan saos sambal ke dalam
plastik. Aku selalu suka melihat Mbak
Ningsih di pagi hari, ketika bedak dan pemerah bibir masih merata di pipi dan
bibirnya. Ketika senyumnya tersungging dan berkata ”Li, pentol ya, belum
sarapan nih,” atau ketika dia mendecap-decap kepedasaan sambil memakan pentol.
”Hidup ini memang
tidak adil ya Li,” kata Mbak Ningsih
”Kenapa mbak?”
”Liat orang di
depan itu Li,” seraya jarinya menunjuk ke arah seseorang yang baru keluar dari
sebuah mobil mewah. ”Hidupnya enak sekali, keturunan orang kaya, kalau minta
apapun tinggal menjentikkan jari dan keinginannya akan terkabul, gak kayak
hidupku.”
”Bukannya hidup ini adil mbak, makanya ada
yang miskin ada yang kaya, ada anak berumur 15 tahun seperti aku yang yatim
piatu dan berjualan pentol untuk hidup, sedang disana ada anak lain yang
berumur 15 tahun hidup kaya raya serta disayang orang tua, dan begitu
seterusnya, kalau gak ada orang miskin mana ada orang kaya mbak.”
”Kamu nggak
pernah meratapi hidupmu Li.”
”Pernah mbak,
awal-awal dulu waktu ditinggal sama emak, tapi sekarang sudah nggak lagi,
soalnya meskipun saya meratap-ratap, emak saya juga tidak akan hidup lagi.”
”Halah Li, pinter
omong kamu itu, yo wis, aku tak kerja dulu.”
Pak Awan adalah
seseorang yang menolongku ketika emak meninggal, dia meminjamiku sejumlah uang dan
menyuruhku berjualan. Pak Awan sangat baik kepadaku, meskipun kata orang-orang
yang lain dia adalah lintah darat yang kejam. Pernah dulu Pak Awan mencoba
merayu emakku dan ingin menjadikan emakku istri yang ketiga. Tentu saja emakku
menolak mentah-mentah rayuan Pak Awan. Setelah mendapatkan pinjaman dari Pak
Awan dan bertanya sana-sini aku
memutuskan untuk berjualan pentol.
Guram, salah
seorang yang kuanggap sebagai teman tertua mengajariku cara membuat pentol.
”Ingat Li jangan lupa, setelah adonan pentol jadi kamu harus menghadap ke barat
dan memutar-mutarnya selama lima kali searah jarum jam,” nasehat dari Guram itu
tentu saja kuturuti sampai sekarang. Guram juga yang mengantarkanku membeli
sepeda bekas dan peralatan lain untuk membuat pentol. Aku juga tinggal di rumah
Guram, karena aku tidak bisa membayar kos kamar setelah ibuku meninggal, jadi
Guram berbaik hati menwariku untuk tinggal di rumah kontrakannya
Guram adalah
orang berpendidikan, pintar luar biasa, dulu dia kaya raya di desanya, dari keluarga
kaya raya juga, keterpurukannya dimulai dari rayuan istrinya agar dia
mencalonkan diri sebagai Kepala Desa. Semua uang, tanah dan rumahnya digunakan
untuk menjadi modal agar dia terpilih menjadi Kepala Desa, toh nanti kalau ia terpilih
semua hartanya itu pasti bisa tergantikan. Pada kenyataannya Guram tidak
terpilih menjadi kepala desa. Sawah, rumah harta bendanya ludes semua, istrinya
pun pergi meninggalkannya. Karena malu dengan orang tuanya dan penduduk desa,
dia memilih merantau dan hidup sendiri seperti sekarang.
”Niatku salah Li,
aku ingin menjadi lurah karana ingin uang dan kekuasaan, seharusnya menjadi
seorang pemimpin adalah amanah bukan karena uang. Kadang aku bersuyukur kalah dari
pemilihan itu, kalau tak kalah coba jadi apa aku, mungkin aku akan jadi orang yang
suka korupsi, berusaha menghalalkan segala cara agar semua harta yang aku
pertaruhkan akan kembali. Lagian kalau tidak begini aku juga tidak tau kalau
istriku memilihku menjadi suami karena hartaku saja.”
.
Pertama kali
berjualan pentol adalah saat-saat yang paling berat, karena aku belum tau
dimana harus mangkal, jadi selalu berpindah-pindah dan daganganku sering tidak
laku. Kalau sampai malam tidak laku, biasanya aku mampir ke salah satu panti asuhan
di pertigaan Laguna dan pentolku itu kukasihkan ke ke anak-anak disana gratis.
Pengasuh yang ada di panti asuhan itu juga pernah menawariku untuk tinggal
disana. Tapi aku tidak mau, karena aku merasa sudah besar dan merasa sudah bisa
mencari uang sendiri. Biarlah di panti asuhan itu dihuni oleh anak-anak kecil
bermata polos, yang ditinggal bapak ibunya dan tentu saja mereka belum bisa
menghidupi hidupnya sendiri.
Berdagang memang
tidak selalu mulus, kadang habis, kadang sisa banyak, lebih susah lagi kalo
hujan dan banjir, kalo sekedar hujan, masih bisa ada payung. Tapi kalo sudah
banjir dan disertai angin kencang, wah bisa jadi males rasanya. Begitulah
liku-liku mncari uang. Kadang-kadang aku ingat emak....kangen sekali rasanya,
tapi Allah lebih mencintai emak, jadi Allah memanggilnya dulu. Meskipun
keadaanku seperti ini, aku tetap bersyukur. Paling tidak aku masih bisa melihat
emak, bayangkan saja anak-anak kecil di panti asuhan yang tidak pernah melihat
emaknya, baru lahir sudah dibuang dan diletakkan sembarangan di pinggir jalan
atau di depan pintu orang sampai ada orang yang menemukan dan berbelas kasihan
kepadanya.
Sekali lagi kisah
tentang Mbak Ningsih, dia merasa tidak bahagia dengan suaminya, karena suaminya
adalah seorang laki-laki pengangguran, berwajah tampan, berhati jahat dan
kerjanya cuma bisa minta uang. Mbak Ningsih sering mengeluh, kenapa dia
menemukan jodoh yang tidak tepat.
”Li, kamu pernah
bilang kalau perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik dan
begitu juga sebaliknya. Menurutmu apakah aku perempuan baik-baik li?”
”Kalau menurutku iya mbak.”
”Lalu kenapa aku
mendapatkan seorang laki-laki yang tidak baik-baik?”
”Jangan begitu
mbak, semua orang pasti bisa berubah, suatu saat nanti mungkin dia akan jadi
laki-laki baik-baik.”
” Tapi kapan Li,”
ujarnya dengan suara parau.
”Kenapa dulu Mbak
memilih dia jadi suami kalau mbak tau dia seperti itu??” tanyaku ke Mbak
Ningsih
”Entahlah Li, aku
pikir karena dia datang di saat dan tempat yang tepat.”
”Maksudnya
bagaimana itu mbak, aku kok jadi bingung?”
”Maksudnya kalau
ingin mencari jodoh, carilah seseorang yang tepat, di saat dan di tempat yang
tepat pula.”
”Tambah bingung
aku mbak.”
”Nanti juga kamu
tau,” ujar Mbak Ningsih sambil meringis memamerkan deretan giginya yang rapi.
”Tahukah mbak,
kalau semua orang pasti punya salah, karena manusia itu tempatnya lupa dan
salah, manusia yang baik adalah manusia yang mau mengakui kesalahannya, memperbaikinya
dan tidak akan lagi mengulangi kesalahannya. Mbak, memaafkan orang yang salah
akan memperingan beban kita sendiri, bahakan ada yang bilang kalau memaafkan
orang yang salah akan mempermudah ajal kita nantinya. Suatu hari nanti saya
yakin suami mbak akan berubah, banyak-banyak doa ya mbak.”
”Iya Li, terima
kasih sarannya.”
Hari ini Ali
sangat gembira, karena menurut perhitungannya hari ini adalah hari terakhir
pembayaran utangnya ke Pak Awan, setelah itu berarti Ali sudah bebas dari
hutang. Dengan tergesa-gesa dia mengenjot sepedanya ke rumah Pak Awan. Sampai
rumah Pak Awan, Ali terkejut melihat Pak Awan terbaring lemas di kursi depan
ditemani Bu Ana istri pertamanya.
”Pak ini cicilan
hutang saya bulan ini,”ujar Ali pelan sambil mendekat ke arah Pak Awan.
”Sudah seminggu
ini Pak Awan sakit Li, badannya lemas, tidak mau makan, sudah kubawa ke dokter,
tetapi kata dokter Pak Awan tak sakit apa-apa,” kata Bu Ana sambil tangannya
terus memijat kaki Pak Awan.
”Apa Bu Indun
sudah tau kalau Pak Awan sakit?” tanya Ali kepada Bu Ana
”Justru Bu Indun
yang membawa Pak Awan kesini, katanya sudah tak sanggup lagi hidup dengan Pak
Awan yang sudah tua dan sakit-sakitan.”
”Pak Awan,
kasihan Bu Ana, jangan sakiti dia lagi, coba kalau Pak Awan sakit seperti ini,
sipa yang merawat kalau bukan Bu Ana,” bisik Ali pelan ke telinga Pak Awan.
”Bu Ana, ini
cicilan saya,” Ali berdiri sambil menyerahkan sejumlah uang lecek yang sedari
tadi sudah digenggamnya.
Bu Ana menerima
uang dari tangan Ali sambil berkata, ”Sudah Li, kau simpan saja, ditabung ya,
hutangmu sudah lunas,” kata Bu Ana sambil menyerahkannya kembali ke tangan Ali.
”Terimakasih Bu
Ana,” mata Ali berkaca-kaca menerima uang dari Bu Ana.
”Semoga Pak Awan
cepat sembuh.”
”Iya Li, terima
kasih doanya.”
Ali segera pulang
ke rumah kontrakan Guram, dia ingin berbagi cerita dengan Guram kalau utangnya
ke Pak Awan sudah lunas.
”Guram hutangku
sudah lunas,” teriak Ali ketika sampai di depan pintu rumah kontrakan Guram.
”Syukurlah Li,
aku ikut senang,” tukas Guram dengan tersenyum
”Kenapa kamu
bersedih li?”
”Aku teringat
emakku Guram, aku ingin sekali bertemu emakku. Dia pasti ikut senang kalau tau
hutangku di Pak Awan sudah habis. Beruntunglah kamu Guram, masih punya ibu dan
bapak, tidakkah kamu ingin menemui mereka?”
”Tidak Li, aku
malu, aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil”.
”Pulanglah Guram,
ibumu pasti senang melihat anaknya yang sudah lama hilang telah kembali”.
”Entahlah Li,
mungkin nanti...”
.
Saat itu udara
sangat panas. Daun-daun gersang berguguran ditiup angin, mestinya saat ini
sudah masuk musim hujan, tetapi matahari masih bersinar dengan garang. Ali
mengayuh sepedanya perlahan. Tiba tiba terdengar bunyi ledakan keras, tabung
elpiji yang diletakkan Ali di belakang sepeda meledak, Ali terpental jatuh ke jalan
raya, sementara dari belakang melaju truk dengan kecepatan tinggi. Truk
tersebut berusaha mengerem mendadak, tubuh Ali terseret bersama truk itu.
Orang-orang ramai
berteriak, Ali melihat orang-orang mengerubunginya, dari kejauhan ada emaknya
tersenyum melambai. Ali menyambut lambaian emaknya, ia bangkit dan berjalan bersama
emaknya. Lalu mereka berdua berjalan bersama.
MBAK NINGSIH
Sudah beberapa
minggu ini suami Mbak Ningsih diterima kerja di perusahaan ekspedisi.
Perangainya juga berubah180 derajat, tak pernah lagi dia marah-marah seperti
dulu. Bahkan dia sering mengingatkan Mbak Ningsih agar tidak pernah
meninggalkan sholat.
”Kalau dengar
adzan segeralah sholat Ningsih, pekerjaan yang lain bisa menyusul. Yang penting
sholat dulu, menghadapkan diri ke Allah,” begitu katanya
Mbak Ningsih
sangat gembira melihat perubahan suaminya, dia yakin suaminya berubah karena
doa-doa yang terus diucapkannya, seperti yang disarankan Ali dulu.
Sebenarnya Mbak
Ningsih ingin bertemu Ali untuk mengucapkan terima kasih, tetapi Ali tidak
pernah berjualan lagi. Sampai pada suatu hari tempat mangkal Ali ditempati oleh
penjual pentol yang lain.
”Dik, kenapa Ali
tidak pernah berjualan pentol lagi,” tanya Mbak Ningsih
”Ali sudah
meninggal tertabrak truk Mbak,” kata anak itu
Mbak Ningsih
terkejut, air mata mengalir perlahan di pipinya, dia bahkan belum sempat
berterima kasih ke Ali.
GURAM
Sesudah
penguburan jenazah Ali, Guram pulang ke desa dan bertemu ibu bapaknya. Tentu
saja ibu dan bapaknya sangat gembira. Si anak hilang telah kembali. Bahkan
ibunya meminta dengan sangat agar Guram mencalonkan kembali menjadi Kepala Desa.
Dengan berbagai pertimbangan Guram menuruti permintaan ibunya dan mendaftar
untuk menjadi calon Kepala Desa, tentu saja kali ini niatannya menjadi Kepala Desa adalah
untuk berbakti kepada desanya tercinta.
Hari ini tepat satu tahun sesudah
kematian Ali, Guram secara resmi terpilih menjadi Kepala Desa, Guram tersenyum
sambil meneteskan air matanya mengingat Ali. ”Terimakasih Ali, karena nasehatmu
aku bisa menjadi seperti ini”.
PAK AWAN.
Pak Awan sudah
sembuh dari sakitnya, dia kini
memutuskan untuk berhenti menjadi lintah darat dan berdagang seadanya
saja di pasar dekat rumahnya. Setelah Pak Awan sembuh, Bu Indun istri keduanya
ingin kembali kepadanya. Tentu saja Pak Awan tidak mau, dia memilih
menghabiskan masa tuanya dengani istri pertamanya, Bu Ana.
Sore itu Pak Awan
berdiri di depan pintu memandang ke luar, dia teringat saat terakhir kali
ketika dia sakit dan Ali membisikkan kata-kata kalau dia tak boleh lagi
menyakiti Ana, istri pertamanya. ”Aku sudah menuruti nasehatmu Ali. Ya Allah,
tempatkanlah di surgaMu,” perlahan-lahan
air mata turun membahasi pipi Pak Awan. |