my thoughts, words and activities

I`m a working IBU who is trying to give the best to my lil "TROIS IMAM PRAKASA"

My Photo
Name: trois`ibu
Location: Surabaya, Indonesia

Wednesday, November 11, 2009

Tipe - Tipe Tukang Parkir

Sering kali di jalan banyak tukang parkir, berikut beberapa tipe tukang parkir menurut pengamatan saya:

1. Tukang Parkir Slonong Boy pinggir Jalan
Tukang Parkir ini hanya membawa peluit saja tanpa karcis. Biasanya suka sembunyi di pohon-pohon. Kalo pas kita parkir di pinggir jalan dia ngilang. Eh giliran kita mo pulang dia tiup-tiup peluit dan menghampiri kita.

2. Tukang Parkir Cuek
Tukang Parkir ini selain membawa peluit, dia juga membawa karcis parkir. Tetapi dia gak mau mbantuin markir, cuma mau terima uangnya saja.

3. Tukang Parkir Bertanggung Jawab
Jadi tukang Parkir ini selain membawa peluit dan karcis, dia juga mau membantu kita untuk parkir.

Saya paling suka dengan tukang pakir yang no. 3 ini.


Jadi tukang parkir mana yang anda suka?? :P

Cool Song

Phil Collins - Groovy Kind Of Love

When I'm feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I'm not so blue
When you're close to me
I can feel you heart beat
I can hear you breathing
In my ear
Wouldn't you agree?
Baby, you and me got a groovy kind of love

Any time you want to
You can turn me on to
Anything you want to
Any time at all
When I kiss your lips
Ooh, I start to shiver
Can't control the quivering inside
Wouldn't you agree?
Baby, you and me got a groovy kind of love

Ooh

When I'm feeling blue
All I have to do
Is take a look at you
Then I'm not so blue
When I'm in your arms
Nothing seems to matter
My whole world can shatter
I don't care
Wouldn't you agree?
Baby, you and me got a groovy kind of love

We got a groovy kind of love
We got a groovy kind of love
Ooh, ooh
We got a groovy kind of love

Floaters Free - Wannabe

Bermula ketika saya duduk di bangku smp, ketika itu waktu upacara hari senin, dari kejauhan saya melihat garis lurus putih bening di mata sebelah kiri.
Kelas 3 smp garis -garis bening yang muncul semakin banyak. Akhirnya saya pergi ke dokter mata, waktu diperiksa ternyata mata saya gak ada kelainan, cuman minus 0.75 untuk mata kiri.

Ternyata semakin hari garis bening transparan itu muncul juga di mata sebelah kanan. Cuma intensitasnya lebih banyak untuk mata yang sebelah kiri.
Karena ketakutan, sekitar setahun yang lalu saya pergi ke dokter mata. Mereka bilang apa yang saya lihat ini namanya floaters dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan floaters. Floaters tidak berbahaya tetapi bisa juga salah satu pertanda ablasio retina.

Setalah saya browsing, saya mendapatkan artikel bahwa floaters bisa terjadi karena liver yang lemah, dan hal itu bisa diatasi dengan meminum campuran milk thistle dan dandelion root. Saya mencoba membeli dan meminum obat tersebut tetapi berhenti di bulan ke tiga karena tidak ada hasilnya.

Selain itu ada juga penyembuhan dengan cara operasi, dimana jeli vitreous dimata diganti dengan jeli buatan. Ada juga pengobatan dengan teknik laser. Tetapi harganya mahal dan jenis operasi ini tidak ada di Indonesia.

Sekarang ini saya cuma bisa berdoa semoga dunia kedokteran mata bisa maju dan ada penyembuh floaters yang didapat dengan harga murah.

Friday, May 08, 2009

Aku Bukan Gay

Sekilas aku melirik jam di pergelangan tanganku. Jam tujuh lewat lima belas menit. Dia belum datang. Biasanya jam tujuh tepat dia selalu datang. Masuk dari pintu samping, duduk di pojok lalu memesan kopi. Mungkin hari ini dia tidak datang. Aku terdiam sebentar dan memutuskan untuk segera beranjak keluar ketika sekelebat kulihat sesosok serba hitam masuk lewat pintu samping. Aku tersenyum dan menarik napas lega. Akhirnya datang juga. Aku mengurungkan niat untuk beranjak pergi. Bergegas dia berjalan ke arahku dan duduk di depanku. Seperti biasanya dia memesan kopi sementara tangannya meraba-raba saku celananya, sejenak kemudian dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan menyulutnya lalu mulai merokok. Dia merokok sambil menjentik-jentikkan abu rokok di tangannya ke asbak yang ada di meja. Apa dia tidak berfikir kalau apa yang dilakukan bisa membunuh orang lain??

Aku sebenarnya benci perokok dan segala sesuatu yg berhubungan dengan rokok. Sejak ibuku meninggal karena rokok, saat itulah aku mulai membenci rokok. Ibuku meninggal karena kanker paru. Ibuku tidak merokok, tapi beliau menjadi perokok pasif, karena bapakku adalah seorang perokok berat . Ada 4000 racun yang terkandung dalam asap rokok dan perokok pasif menghisap 85 % asap yang dikeluarkan oleh rokok. Bahkan asap yang dihisap oleh perokok pasif lebih berbahaya karena tidak melalui proses penyaringan. Asap rokok bapakku yang setiap hari dihisap oleh ibuku inilah yang menjadikan beliau terkena kanker paru. Sejak ibuku dinyatakan terkena kanker paru sebenarnya bapakku sudah berhenti merokok. Tetapi semua sudah terlambat. Penyakit kanker paru ibuku sudah akut dan tidak bisa lagi ditolong. Beliau meninggal, disusul enam bulan kemudian bapak meninggal, bukan kerena rokok, tetapi karena kesedihan dan penyesalan yang mendalam setelah ditinggal ibu. Aku menghela napas sebentar dan berfikir orang bodoh mana yang mau mengeluarkan uang untuk membeli penyakit seperti rokok.

Mestinya aku harus membencinya karena dia perokok, seperti aku membenci teman-teman sekantorku yang perokok. Hal ini kubuktikan dengan menempelkan poster tubuh seorang perokok yang menggambarkan tubuh seseorang yang rusak akibat rokok di meja kerjaku. Itu bisa diibaratkan dengan ungkapan“stay away from me smoker”, dan memang tidak ada satupun rekan sekerjaku yang mau merokok di depanku kalau tidak ingin kudamprat.

Pertama kali melihatnya kupikir dia perempuan, karena wajahnya yang manis, matanya yang sendu dengan hidung mancung dan dan mulut yang mungil menjadikan dia persis seperti perempuan. Tapi dari gaya berpakaian, topi, suaranya yang parau dan serak membuat dia seperti laki-laki.

“Heh, melamun saja” katanya dengan sedikit berteriak
Aku tergagap sejenak, lalu berkata, “hmmm emangnya dilarang melamun”
“Melamun apa sih?”
“Kenapa kamu merokok?”
“Hah, pertanyaan itu lagi, aku sudah bosan dengan pertanyaan itu. Orang meninggal itu karena takdir, bukan karena rokok. Jangan hanya karena orang tuamu meninggal karena rokok, lantas kau ingin menutup semua pabrik rokok di dunia ini. Itu tidak adil. Berapa ribu orang yang akan kelaparan kalau semua pabrik rokok tidak berproduksi, katanya dengan sedikit sewot”.
“Kamu kasar sekali, ujarku dengan sedikit memelas
“Heh, kamu itu laki-laki, jangan cengeng, masa sih omonganku yang begitu dibilang kasar”.

Aku tertunduk sejenak dan termangu, membayangkan wajah ibuku, lalu rasanya ingin menangis. Aku memang laki-laki, tapi apa salah kalau aku menangis saat mengenang alamarhumah ibuku?. Kenapa aku mau berteman dengan orang ini. Wajahnya memang manis seperti perempuan , tapi bicaranya kasar, seperti orang yang tidak berpendidikan. Sejak pertemuan pertama di tempat ini enam bulan yang lalu, kami memang sepakat untuk bertemu seminggu tiga kali di tempat yang sama. Entah mengapa sangat menyenangkan berbicara dengannya. Sejak bertemu dengannya aku memang selalu membayangkan dirinya. Aku selalu merindukannya. Apa ini yang dinamakan cinta? Aku laki-laki sejati dan laki laki sejati tidak jatuh cinta adengan sesama laki-laki. Kalau sampai dengan umurku yang sekarang ini aku belum menikah, bukan karana aku tidak tertarik dengan perempuan. Aku hanya ingin mencari seseorang yang tepat untuk kujadikan pasanganku seumur hidup. Dan selama ini aku belum menemukan seseorang itu. Sebenarnya kalau mau jujur, aku suka dengan orang ini, aku tertarik padanya saat pertama kali aku melihatnya. Berdua dengannya seperti kehabisan waktu, meski kami berdua selalu beradu pendapat. Tapi tidak berarti itu pertengkaran. Aku nyaman bersamanya, tidak pernah sekali pun aku merasa bosan bila bersamanya. Andai saja dia bukan laki-laki.

“Kenapa denganmu hari ini. Aku minta maaf kalau omonganku yang tadi sudah menyinggung perasaanmu”.
“Ah tidak, kamu benar, laki-laki tidak boleh melankolis”.
“Apa pendapatmu tentang laki-laki yang mencintai laki-laki?”
“Gay , homoseksual maksudmu?”
“Ya”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu pendapatmu”
“Kalau menurutku, gay itu sebuah pilihan hidup. Tinggal bagaimana kita sebagai individu menyikapinya. Secara pribadi aku tidak ada masalah dengan hal itu. Aku punya banyak teman seperti itu dan aku menghormati keputusan mereka untuk menjadi seperti itu”.

Aku ingin sekali mengatakan kepadanya apa yang kupikirkan saat ini, tapi aku takut dia malah marah dan tidak mau lagi bertemu denganku. Tapi aku harus mengatakannya dan aku pikir saat ini adalah saat yang tepat.

“Hans, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, aku harap kamu tidak marah”.
“Katakan saja, mengapa aku harus marah?””
Aku mencintaimu, sudah lama aku ragu-untuk mengatakan hal ini. Kalau setelah ini kamu tidak mau lagi menemuiku, itu terserah. Yang penting aku sudah menyatakan perasaanku. Apakah kamu marah?”tanyaku dengan wajah memerah karena malu.
“Tidak, mengapa kamu mencintaiku?”
“Entahlah aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Sejak kali pertama aku melihatmu aku sudah suka, kukira kau adalah seorang perempuan yang tomboy dan berlagak seperti laki-laki. Tapi setelah lama berkenalan denganmu perasaan itu makin kuat saja. Kamu marah?”

“Tidak..lanjutkan saja bicaramu”

“Aku tidak pernah merasa kesepian sebelumnya, meski aku tidak punya pasangan, tidak punya saudara dan tidak punya orang tua, tapi aku punya banyak teman dan aku tidak pernah merasa kesepian. Tapi itu berubah setelah aku mengenalmu. Setelah mengenalmu, aku merasa kesepian, aku selalu ingin berada di dekatmu, aku tau hal ini salah, karena aku bukan gay, aku laki-laki sejati. Tapi aku tidak kuat melawan perasaanku sendiri dan aku harus mengatakannya kepadamu. Aku tidak tau kenapa aku selalu merasa nyaman berada di dekatmu Aku tidak tahu kenapa berada di dekatmu aku selalu kehabisan waktu
Aku tidak tau kenapa aku selalu ingin melindungimu, menjagamu, dan berada disampingmu. Kukira aku mencintaimu, tapi aku bukan gay. Kamu marah?”.

“Tidak, aku hanya ingin sedikit bercerita kepadamu, tentang keluargaku. Ibuku adalah istri kedua. Bapakku seorang laki-laki yang kaya, yang dengan dalih agama mengatakan kalu ia boleh saja berpoligami asalkan adil. Dan tentu saja karena bapakku kaya, maka ia punya istri empat. Tapi apakah ia adil?? Tentu saja tidak, ia lebih mencintai istri yang baru daripada istri yang lama. Ibuku juga hanya bisa menerima pasrah saat bapakku ingin menikah lagi. Kadang aku benci perempuan, seperti ibuku yang hanya bisa pasrah saat disakiti laki-laki. Sebenarnya aku ingin menjadi seorang laki-laki, bukan sebagai seorang wanita lemah.”

“Kamu memang laki-laki”,ujarku dengan nada meninggi.
“Bukan Yan, aku perempuan, namaku Handayani, bukan Hans. Kamu bukan gay Yan, kamu laki-laki tulen yang mencintai perempuan. Aku ingin sekali menjadi laki-laki, maka aku bertingkah dan berpakaian seperti laki-laki, di samping itu pekerjaanku yang sekarang memang menuntut aku untuk seperti ini. Jadi kalau ada orang yang menyangka aku laki-laki, aku malah suka”.
“Apakah setelah ini kamu masih mau menemuiku?”
“Tentu saja aku mau menemuimu, kamu temanku”
“Terimakasih sudah mengatakan tentang asal-usulmu, hal itu meringankan bebanku, aku sudah jatuh cinta pada seorang perempuan, bukan laki-laki”.
“Terima kasih telah mengingatkanku akan bahaya merokok”
“Apakah kamu akan berhenti merokok setelah ini?”
“Jangan meminta terlalu banyak Yan” katanya dengan tersenyum lebar.
“Ya, yang penting aku bukan seorang gay”, sahutku dengan nada riang.

PS: To all the smokers in the world. Dont u know that when u smoke u will make others surround u get sick??

Hotel Vanda Gardenia.....Ada apa??


Hotel Vanda Gardenia

Beberapa waktu lalu saya sempat menginap di Hotel Vanda Gardenia Trawas karena acara kantor. Kesan pertama waktu masuk dari depan, hotelnya lumayan bagus, cuman memang perawatannnya yang kurang. Jadi terkesan agak kotor dan memerlukan pengecatan ulang disana-sini.
Interior untuk ruang pertemuannya bagus dan lapang. Saya terkesan dengan pemilihan pintu yang terbuat dari kayu dengan handel yang besar. Di sebelah kiri dan kanan pintu terdapat profil ukiran dari gypsum yang dicat kombinasi warna krem dan coklat muda. Untuk hiasan ruangan terdapat pohon tiruan di pojok dan beberapa tanaman asli yang ditata di depan panggung kecil yang dilapisi karpet merah, sedangkan gordinnya berwarana merah senada dengan kursinya.

Setelah beberapa saat di lobi saya beranjak ke kamar. Kamar saya terletak di lantai 3. Jadi agak sedikit ngos-ngosan waktu naik. Kebetulan waktu itu kamar saya berada di pojok ruangan. Setelah saya bandingkan dengan kamar-kamar lain yang ditempati teman-teman saya, ternyata kamar saya itu lebih kecil dan tidak ada lemarinya. Kalau menurut saya ruangan itu dipaksakan menjadi kamar, karena sebenarnya kalau dilihat dari segi luas tidak sama dengan kamar2 lainnya. Interior di dalam kamar sangat standar sekali. Apalagi kamar mandinya, tidak ada bath up. Kalau untuk air panasnya sih OK punya. Tetapi di saat-saat terakhir saat saya mau pulang, airnya berubah menjadi keruh kecoklatan. Itu mungkin pengaruh dari hujan yang turun terus menerus.

Satu hal yang mengganggu di Hotel ini adalah masalah keamanan. Untuk Masuk dan keluar hotel memang melalui satu pintu, tetapi mobil yang masuk tidak diberi karcis. Kemudian ada satu kejadian yang tidak akan terlupakan. Waktu itu saya sedang turun makan malam. Setelah itu salah satu teman memberitahu kalau waktu itu dia membuka kamar saya, karena dikiranya saya belum makan malam di bawah dan di terkejut karena di dalam kamar saya dalam keadaaan kosong(tidakada orang) tetapi tidak dikunci. Setengah kaget saya naik ke kamar saya dengan teman saya satu kamar. Ternyata tas teman saya hilang. Setelah dilaporkan ke pihak hotel, pihak hotel malah menunjukkan sebuah buku peraturan hotel yang terletak di dalam kamar. Salah satu peraturan berbunyi bahwa "Apabila keluar kamar maka tamu harus membawa barang-barang berharga atau dititipkan k ehotel, apabila barang berharga berada di dalam kamar dan kemudian hilang, maka hotel tidak akan bertanggung jawab.

Selang beberapa jam kemudian pihak hotel mengajak kami ke Polres Trawas untuk melaporkan kejadian tersebut. Akhirnya berangkatla saya, Fatin, Mbak Eva dan Pak Ismanu ke Polres Trawas. Setelah ngobrol dengan Bapak2 polisi disana, saya mengetahui bahwa kejadian kecurian di Hotel vanda Gardenia ini bukan yang pertama. Sebelumnya juga pernah terjadi kecurian di kamar hotel padahal pintu dalam keadaan tidak rusak.


Fatin, Mbak Eva dan Pak Ismanu berpose di Polres Trawas :P

Sayang sekali hotel sebesar Vanda Gardenia tetapi masalah keamanannya kurang memadai. Bagaimana ini Hotel Vanda Gardenia????

Tuesday, January 20, 2009

Setelah 63 Tahun Indonesia Merdeka

Pasal 34 ayat 1:
Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara




Thursday, September 04, 2008

DENGKURAN ISTRI SAYA

Berulang kali saya membolak-balikkan badan, menghitung jumlah domba-domba khayalan yang ada di kepala saya, menghitung jumlah bunga-bunga kecil di daster yang dipakai istri saya, tapi saya tetap tidak dapat tidur juga. Entahlah mengapa kalau saya pikir dari semua malam yang sudah saya lalui dengan istri saya, malam ini lah dengkuran istri saya paling keras dan dahsyat. Perang berkecamuk di batin saya, antara keinginan untuk mencoba membangunkan istri saya dan perasaan bersalah karena saya tahu dia pasti capek dan tidak ingin terbangun karena sudah lelah seharian bekerja.
Tapi saya juga butuh tidur, dan saya tidak akan bisa tidur dengan bunyi dengkuran yang sekeras bunyi gergaji mesin tua.

Ingatan saya melayang saat saya pertama kali bertemu dengan istri saya di stasiun kereta, waktu itu kami sama-sama dari Jakarta hendak ke Surabaya dan kebetulan kami duduk bersebelahan di gerbong kereta nomer dua. Perjalanan jauh dari Jakarta ke Surabaya cukup mendekatkan kami berdua, apalagi saat itu kamu duduk berdampingan sekursi. Saya terpesona melihat gaya bicara dia. Pelan, anggun dan tenang. Kontras sekali dengan saya yang selalu meledak-ledak dan berapi-api saat berbicara. Wajahnya biasa saja. Dengan sepasang mata sayu, mulut lebar serta bentuk muka yang lonjong dan rambut berombak tipis, dia jauh dari kesan cantik. Tapi sekali lagi saya terpesona melihat dia berbicara. Ketika dia berkata bahwa dia belum pernah berpacaran, saya tidak percaya, mana ada seorang gadis seumur dia belum pernah sama sekali berpacaran.
“ Aku tidak menarik apalagi cantik, tidak ada seorang pria manapun yang mau jadi kekasihku” begitu katanya saat itu. Saya tersenyum, sambil melirik ke jari-jemari tangannya yang lentik. Jari-jemari tangannya kurus, panjang dan runcing. Sampai sekarang saya selalu mengagumi jari jemari tangannya.
“Kalau begitu bolehkah saya menjadi kekasihmu???”
“Tentu saja tidak boleh, dirimu belum mengenalku, aku takut engkau nanti kecewa”
“Kalau begitu ijinkan saya untuk mengenalmu, dimana alamatmu di Surabaya??”
“Aku tidak akan begitu saja memberikan alamatku kepadamu, suatu saat kalau kita berjumpa lagi, baru aku akan memberikan alamatku kepadamu. Itu tanda kita berjodoh”.
Ternyata kami berdua memang bertemu lagi, dan dia menjadi istri saya sampai sekarang.
Sekilas saya melihat jam dinding. Sudah jam dua belas malam. Itu berarti sudah dua jam lamanya saya berbaring tanpa bisa tidur. Istri saya masih mendengkur. Mungkin saya tidak akan pernah mau menjadikan dia istri saya kalau saya tahu sejak awal dia suka mendengkur dalam tidurnya.

“Mungkin sebaiknya saya ke dokter” begitu kata istri saya sewaku saya protes dengan suara dengkurnya. Dan begitulah kami pergi dari satu dokter ke dokter lainnya tanpa hasil. Dengkuran istri saya bukannya bertambah pelan tapi bertambah keras saja setiap malam. Saya juga sudah mencoba untuk memberi sumpalan pada kedua telinga saya. Tetapi dengkuran itu masih saja terdengar jelas dan keras.

“Dengkuran itu sebenarnya terjadi karena kita bernafas lewat mulut waktu tidur, udara yang masuk lewat mulut akan menimbulkan getaran dengan lidah. Itu yang menyebabkan dengkuran”
“Tapi istri saya tidak membuka mulut waktu mendengkur” kata saya waktu berkonsultasi dengan teman saya yang juga seorang dokter.
“Ya, dengkuran bisa juga diakibatkan karena menyempitnya saluran napas seseorang waktu tidur, usaha udara untuk melewati salaran napas itulah yang menyebabkan istrimu mendengkur, meskipun mulutnya tidak membuka waktu tidur.”
“Tapi kenapa ada orang yang mendengkur dan ada yang tidak??”
“Karena umumnya saluran napas akan secara otomatis melemas pada waktu kita tidur, tetapi pada sebagian orang saluran napasnya tidak bisa melemas, lalu saluran napasnya menyempit, sehingga orang itu mendengkur”.

Saya menghela napas panjang, melihat ke sekeliling ruangan kamar. Melirik sebentar ke istri saya, lalu menutup muka saya dengan bantal. Sebaiknya, saya tidur saja di kursi ruang tamu. Selama ini saya tidak pernah melakukannya karena takut kalau dia tersinggung. Saya bangkit dari tempat tidur, berjalan berjingkat keluar kamar lalu membuka dan menutup pintu dengan perlahan. Sampai di ruang tamu, saya menghempaskan diri ke kursi. Sebentar lagi saya pasti sudah bisa tidur. Dengkuran istri saya tidak kedengaran dari sini.

Saya mulai menutup mata dan mencoba untuk tidur. Sudah jam berapa ya sekarang??, pikir saya dalam hati. Besok saya harus bangun pagi karena saya ingin berangkat ke kantor lebih awal. Seperti biasanya istri saya akan menyiapkan sarapan yang lezat sebelum saya pergi ke kantor. Dia jago masak. Masakannya lezat sekali. Kadang saya kasihan melihatnya harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk kami bedua, lalu berangkat kerja. Dia pasti capek. Saya sangat mencintainya. Ah, kenapa saya belum bisa juga tidur? Padahal di sini sunyi dan sepi. Mungkin bukan dengkuran istri saya yang menyebabkan saya tidak bisa tidur, mungkin saya sendiri yang malam ini memang tidak bisa tidur, tapi mengkambinghitamkan dengkuran istri saya sebagai penyebab saya tidak bisa tidur. Saya tadi memang terlalu banyak minum kopi.
Mengapa saya selalu membesar-besarkan masalah dengkurannya??
Mengapa saya tidak bisa menerima itu sebagai salah satu kekurangannya?
Bukankankah kelebihan dia juga banyak?
Dia juga mau menerima segala kekurangan saya tanpa mengomel. Dia tidak pernah protes walalu gaji saya lebih rendah dari gajinya. Dia juga tidak pernah menyalahkan saya waktu dokter memvonis bahwa kami berdua akan sulit punya anak karena ada masalah dengan saluran reproduksi saya. Tapi mengapa saya selalu menuntut dia lebih dari yang dia bisa?
Saya merasa malu pada diri saya sendiri. Berulangkali saya mengatakan kalau saya mencintainya, tapi apa buktinya?

Cinta itu memberi bukan mengambil.
Cinta itu menerima bukan menuntut
Cinta itu melepaskan bukan mengekang

Kata-kata itu yang berulangkali diucapkan istri saya ketika saya berkata apakah dia mencintai saya. Saya terpekur, istri saya memang tidak pernah mengatakan kalau dia mencintai saya, tetapi dari perbuatannya tampak jelas kalau dia juga sangat mencintai saya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan Subuh. Bergegas saya masuk ke kamar dan membangunkan istri saya.
“Bu, bangun……sudah subuh, ayo sholat”
Dengan mata setengah terpejam istri saya duduk di tempat tidur sambil berkata “Tumben bangun pagi, dengkuran kerasku yang membangunkanmu ya?”
“Dengkuran apa?? kamu tidak mendengkur, ayo kita sholat” kata saya sambil memeluknya erat.

Labels:

Sunday, July 13, 2008

Forgiven and Forgotten

Kejadian ini seringkali menimpa saya, merasa disakiti oleh seseorang dan saya susah untuk melupakan hal itu, akibatnya tiapkali ketemu dengan orang yang bersangkutan saya merasa “neg”. Tapi itu dulu.!

Sekarang saya ingin berubah. Memang kayaknya hidup lebih enak kalo seperti program di computer, tinggal install program seneng dan uninstall semua program marah, benci, sedih, kecewa dan sakit hati. Tapi sayang seribu sayang hidup ini bukan program di computer. mau tidak mau semua harus dihadapi

Baru-baru ini banyak sekali kejadian di tempat saya kerja! yang membuat saya berpikir buat apa membenci dan mendendam pada seseorang??? Apa enaknya?? Membuat hati dan jiwa malah lebih kusut. Hidup jadi tidak tenang karena pikiran selalu dipenuhi dengan rasa marah. Lebih baik memaafkan dan melupakan. Memaafkan semua kejadian yang menyakitkan dan melupakannya..

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ( QS 3 : 134 ).

Hidup memang bukan seperti program di computer, tapi paling tidak mulai sekarang saya akan berusaha untuk uninstall rasa benci, dendam, marah dan buruk sangka dari hati saya.

Thursday, July 03, 2008

Saya tidak menyesal menikah dengan Mas Dayat

"Wah ternyata asal kita sama"

"Ya gak sama, saya dari Bojonegoro, sampeyan dari Babat"

"Samalah, masih satu daerah. Gak nyangka deh"

"Gak nyangka gimana???"

"Gak nyangka kalu ada ce dari bojonegoro secantik kamu"

"Dasar gombal......"

Saya masih ingat persis waktu, hari dan tanggal, percakapan itu terjadi...... 31 Maret 1990. Itu pertama kalinya saya mau meladeni omongan Mas Dayat, yang sebelumnya terus-menerus menggoda saya, saat saya lewat di depannya.

Nama saya Sumariyati, sulung dari empat bersaudara. Seperti pada umumnya penduduk di Bojonegoro, bapak dan ibu saya seorang petani. Lepas SMEA, saya dititipkan Bapak dan Ibu saya dirumah paklik di Surabaya.Kemudian saya dicarikan pekerjaan sebagai TU di sekolah Dharma Mulya oleh paklik. Di depan rumah paklik saya itulah saya dan Mas Dayat sering bertemu. Mas Dayat bekerja di Antika Raya yang tempatnya di depan rumah paklik saya.Dari percakapan pendek diatas itulah lama-lama saya mengenal Mas Dayat, bahkan sering pulang bareng ke Bojonegoro. Lama kelamaan saya simpati kepadanya. Dan kemudian kami berpacaran. Bukannya sombong memang paras saya cukup cantik, sehingga bayak cowok yang naksir pada saya. Tapi saya lebih memilih Mas Dayat yang pekerjaannya hanya sebagai tukang bersih mobil di Antika Raya.

Selang beberapa tahun kemudian kami memutuskan untuk menikah. Sebenarnya orang tua dan paklik saya tidak setuju hubungan saya dengan Mas Dayat, karena pekerjaan Mas Dayat yang tidak cukup keren dan karena Mas Dayat yang hanya lulusan SD. Tapi saya bersikeras. Saya yakin dialah jodoh yang dipilihkan Allah untuk saya. Setelah menikah, kami memutuskan untuk meninggalkan Surabaya. Saya berhenti bekerja, Mas Dayat juga. Kami berdua tinggal di rumah petak, bersebelahan dengan rumah kakak Mas Dayat di Babat. Meskipun rumah saya di Bojonegoro jelek, tapi rumah ini lebih parah dari rumah saya, apalagi kalau banjir.

Tapi saya tidak menyesal menikah dengn Mas Dayat.

Disana Mas Dayat membuka tambal ban dan reparasi sepeda ontel. Disela-sela waktu senggangnya, dia juga membuat sandal dari ban bekas. Sedangkan saya, bersama kakak ipar membuat jajanan khas Babat, yaitu wingko. Alhamdulillah wingko saya cukup laris. Sedikit-sedikit kami bisa menabung. Saya bahagia, apalagi, anak kami yang pertama sudah lahir. Tetapi perjalanan hidup memang tidak mulus, selalu ada turun naik. Krisis moneter datang. Usaha wingko saya tidak berjalan lagi. Kami tidak punya cukup modal untuk membeli bahan-bahan yang harganya selangit. Selain itu pesanan juga tidak ada. Toko-toko yang biasanya dititipi juga menolak. Sementara itu Mas Dayat sakit. Dia tidak bisa bekerja dan hanya bisa berdiam di rumah saja. Saya mengambil keputusan untuk bekerja di percetakan. Kami butuh uang, karena saya hamil anak kedua. Sekali lagi, meskipun saya yang harus mencari nafkah untuk keluarga.

Saya tidak menyesal menikah dengan Mas Dayat.

Bekerja di percetakan memang hasilnya lumayan. Tapi saya capek sekali. Kadang dari pagi, baru tengah malam saya nyampai di rumah. Tapi saya harus bekerja. Ternyata ujian dari Allah datang lagi. Mas Dayat terkena stroke. Dia tidak bisa apa-apa.
Hanya berdiam saja di tempat tidur. Saya berhenti bekerja. Kami berobat kesana-kemari. Untung ada ASESKIN, jadi kami tidak perlu membayar. Saya bawa Mas Dayat ke rumah sakit umum di Babat. Sampai disana dokter angkat tangan. Saya dirujuk ke rumah sakit di Lamongan. Sampai Lamongan saya dirujuk ke Dr. Soetomo Surabaya. Saya menolak

"Disana gratis bu, tidak bayar, kan ibu punya ASESKIN" kata salah seoerang dokter
"Iya pak, tidak bayar, tapi kalo harus riwa-riwi begitu kan transportnya mahal"

Bukannya saya tidak mau Mas Dayat sembuh, tapi saya memang sudah tidak punya uang lagi. Saya bawa Mas Dayat pulang ke Babat untuk mencari pengobatan alternatif.
Sampai di Babat, ada salah seorang tetangga yang bilang kalo di Burno ada tukang pijit terkenal. Saya bawa Mas Dayat kesana. Sampai di sana mas Dayat disuruh menginap selama 10 hari. Alhamdulillah setelah itu Mas Dayat bisa jalan. Sementara itu untuk makan sehari-hari saya berjualan donat dan saya titipkan di pasar. Kalo lagi rame dengan modal 20.000 saya bisa dapat uang 45.000 Sampai sekarang saya masih tidak memperbolehkan Mas Dayat bekerja. Saya takut kalau di sakit lagi.
Alhamdulillah lagi saya bahagia, suami saya sembuh.

Pernah saya bertemu dengan salah seorang cowok yang pernah naksir saya, dia bertanya "Apa kamu tidak menyesal menikah dengan Dayat?". Saya menjawab dengan tegas
"Tidak, saya tidak meyesal menikah dengan Mas Dayat. Saya percaya bahwa dialah jodoh yang telah dipilihkan Alah untuk saya."


Buat Mbak Yat: "I admire U"

Sunday, June 22, 2008

Berat dan Panjang Bayi

Kalau saya bandingkan dengan bayi seusianya Trois itu termasuk kecil lho, ini bikin saya cemas. Beratnya 10 kg dan panjangnya 78 cm. Tapi setelah saya browsing, ternyata untuk ukuran bayi 16 bulan, berat Trois masih termasuk normal.



Diatas ini tabel perkembangan panjang bayi s/d usia 8 tahun

<

Sedangkan yang ini tabel perkembangan berat bayi s/d usia 8 tahun


Untuk selengkapnya tentang perkembangan berat dan panjang bayi bisa dibaca disini