Sekilas aku melirik jam di pergelangan tanganku. Jam tujuh lewat lima belas menit. Dia belum datang. Biasanya jam tujuh tepat dia selalu datang. Masuk dari pintu samping, duduk di pojok lalu memesan kopi. Mungkin hari ini dia tidak datang. Aku terdiam sebentar dan memutuskan untuk segera beranjak keluar ketika sekelebat kulihat sesosok serba hitam masuk lewat pintu samping. Aku tersenyum dan menarik napas lega. Akhirnya datang juga. Aku mengurungkan niat untuk beranjak pergi. Bergegas dia berjalan ke arahku dan duduk di depanku. Seperti biasanya dia memesan kopi sementara tangannya meraba-raba saku celananya, sejenak kemudian dia mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya dan menyulutnya lalu mulai merokok. Dia merokok sambil menjentik-jentikkan abu rokok di tangannya ke asbak yang ada di meja. Apa dia tidak berfikir kalau apa yang dilakukan bisa membunuh orang lain??
Aku sebenarnya benci perokok dan segala sesuatu yg berhubungan dengan rokok. Sejak ibuku meninggal karena rokok, saat itulah aku mulai membenci rokok. Ibuku meninggal karena kanker paru. Ibuku tidak merokok, tapi beliau menjadi perokok pasif, karena bapakku adalah seorang perokok berat . Ada 4000 racun yang terkandung dalam asap rokok dan perokok pasif menghisap 85 % asap yang dikeluarkan oleh rokok. Bahkan asap yang dihisap oleh perokok pasif lebih berbahaya karena tidak melalui proses penyaringan. Asap rokok bapakku yang setiap hari dihisap oleh ibuku inilah yang menjadikan beliau terkena kanker paru. Sejak ibuku dinyatakan terkena kanker paru sebenarnya bapakku sudah berhenti merokok. Tetapi semua sudah terlambat. Penyakit kanker paru ibuku sudah akut dan tidak bisa lagi ditolong. Beliau meninggal, disusul enam bulan kemudian bapak meninggal, bukan kerena rokok, tetapi karena kesedihan dan penyesalan yang mendalam setelah ditinggal ibu. Aku menghela napas sebentar dan berfikir orang bodoh mana yang mau mengeluarkan uang untuk membeli penyakit seperti rokok.
Mestinya aku harus membencinya karena dia perokok, seperti aku membenci teman-teman sekantorku yang perokok. Hal ini kubuktikan dengan menempelkan poster tubuh seorang perokok yang menggambarkan tubuh seseorang yang rusak akibat rokok di meja kerjaku. Itu bisa diibaratkan dengan ungkapan“stay away from me smoker”, dan memang tidak ada satupun rekan sekerjaku yang mau merokok di depanku kalau tidak ingin kudamprat.
Pertama kali melihatnya kupikir dia perempuan, karena wajahnya yang manis, matanya yang sendu dengan hidung mancung dan dan mulut yang mungil menjadikan dia persis seperti perempuan. Tapi dari gaya berpakaian, topi, suaranya yang parau dan serak membuat dia seperti laki-laki.
“Heh, melamun saja” katanya dengan sedikit berteriak
Aku tergagap sejenak, lalu berkata, “hmmm emangnya dilarang melamun”
“Melamun apa sih?”
“Kenapa kamu merokok?”
“Hah, pertanyaan itu lagi, aku sudah bosan dengan pertanyaan itu. Orang meninggal itu karena takdir, bukan karena rokok. Jangan hanya karena orang tuamu meninggal karena rokok, lantas kau ingin menutup semua pabrik rokok di dunia ini. Itu tidak adil. Berapa ribu orang yang akan kelaparan kalau semua pabrik rokok tidak berproduksi, katanya dengan sedikit sewot”.
“Kamu kasar sekali, ujarku dengan sedikit memelas
“Heh, kamu itu laki-laki, jangan cengeng, masa sih omonganku yang begitu dibilang kasar”.
Aku tertunduk sejenak dan termangu, membayangkan wajah ibuku, lalu rasanya ingin menangis. Aku memang laki-laki, tapi apa salah kalau aku menangis saat mengenang alamarhumah ibuku?. Kenapa aku mau berteman dengan orang ini. Wajahnya memang manis seperti perempuan , tapi bicaranya kasar, seperti orang yang tidak berpendidikan. Sejak pertemuan pertama di tempat ini enam bulan yang lalu, kami memang sepakat untuk bertemu seminggu tiga kali di tempat yang sama. Entah mengapa sangat menyenangkan berbicara dengannya. Sejak bertemu dengannya aku memang selalu membayangkan dirinya. Aku selalu merindukannya. Apa ini yang dinamakan cinta? Aku laki-laki sejati dan laki laki sejati tidak jatuh cinta adengan sesama laki-laki. Kalau sampai dengan umurku yang sekarang ini aku belum menikah, bukan karana aku tidak tertarik dengan perempuan. Aku hanya ingin mencari seseorang yang tepat untuk kujadikan pasanganku seumur hidup. Dan selama ini aku belum menemukan seseorang itu. Sebenarnya kalau mau jujur, aku suka dengan orang ini, aku tertarik padanya saat pertama kali aku melihatnya. Berdua dengannya seperti kehabisan waktu, meski kami berdua selalu beradu pendapat. Tapi tidak berarti itu pertengkaran. Aku nyaman bersamanya, tidak pernah sekali pun aku merasa bosan bila bersamanya. Andai saja dia bukan laki-laki.
“Kenapa denganmu hari ini. Aku minta maaf kalau omonganku yang tadi sudah menyinggung perasaanmu”.
“Ah tidak, kamu benar, laki-laki tidak boleh melankolis”.
“Apa pendapatmu tentang laki-laki yang mencintai laki-laki?”
“Gay , homoseksual maksudmu?”
“Ya”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu pendapatmu”
“Kalau menurutku, gay itu sebuah pilihan hidup. Tinggal bagaimana kita sebagai individu menyikapinya. Secara pribadi aku tidak ada masalah dengan hal itu. Aku punya banyak teman seperti itu dan aku menghormati keputusan mereka untuk menjadi seperti itu”.
Aku ingin sekali mengatakan kepadanya apa yang kupikirkan saat ini, tapi aku takut dia malah marah dan tidak mau lagi bertemu denganku. Tapi aku harus mengatakannya dan aku pikir saat ini adalah saat yang tepat.
“Hans, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, aku harap kamu tidak marah”.
“Katakan saja, mengapa aku harus marah?””
Aku mencintaimu, sudah lama aku ragu-untuk mengatakan hal ini. Kalau setelah ini kamu tidak mau lagi menemuiku, itu terserah. Yang penting aku sudah menyatakan perasaanku. Apakah kamu marah?”tanyaku dengan wajah memerah karena malu.
“Tidak, mengapa kamu mencintaiku?”
“Entahlah aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Sejak kali pertama aku melihatmu aku sudah suka, kukira kau adalah seorang perempuan yang tomboy dan berlagak seperti laki-laki. Tapi setelah lama berkenalan denganmu perasaan itu makin kuat saja. Kamu marah?”
“Tidak..lanjutkan saja bicaramu”
“Aku tidak pernah merasa kesepian sebelumnya, meski aku tidak punya pasangan, tidak punya saudara dan tidak punya orang tua, tapi aku punya banyak teman dan aku tidak pernah merasa kesepian. Tapi itu berubah setelah aku mengenalmu. Setelah mengenalmu, aku merasa kesepian, aku selalu ingin berada di dekatmu, aku tau hal ini salah, karena aku bukan gay, aku laki-laki sejati. Tapi aku tidak kuat melawan perasaanku sendiri dan aku harus mengatakannya kepadamu. Aku tidak tau kenapa aku selalu merasa nyaman berada di dekatmu Aku tidak tahu kenapa berada di dekatmu aku selalu kehabisan waktu
Aku tidak tau kenapa aku selalu ingin melindungimu, menjagamu, dan berada disampingmu. Kukira aku mencintaimu, tapi aku bukan gay. Kamu marah?”.
“Tidak, aku hanya ingin sedikit bercerita kepadamu, tentang keluargaku. Ibuku adalah istri kedua. Bapakku seorang laki-laki yang kaya, yang dengan dalih agama mengatakan kalu ia boleh saja berpoligami asalkan adil. Dan tentu saja karena bapakku kaya, maka ia punya istri empat. Tapi apakah ia adil?? Tentu saja tidak, ia lebih mencintai istri yang baru daripada istri yang lama. Ibuku juga hanya bisa menerima pasrah saat bapakku ingin menikah lagi. Kadang aku benci perempuan, seperti ibuku yang hanya bisa pasrah saat disakiti laki-laki. Sebenarnya aku ingin menjadi seorang laki-laki, bukan sebagai seorang wanita lemah.”
“Kamu memang laki-laki”,ujarku dengan nada meninggi.
“Bukan Yan, aku perempuan, namaku Handayani, bukan Hans. Kamu bukan gay Yan, kamu laki-laki tulen yang mencintai perempuan. Aku ingin sekali menjadi laki-laki, maka aku bertingkah dan berpakaian seperti laki-laki, di samping itu pekerjaanku yang sekarang memang menuntut aku untuk seperti ini. Jadi kalau ada orang yang menyangka aku laki-laki, aku malah suka”.
“Apakah setelah ini kamu masih mau menemuiku?”
“Tentu saja aku mau menemuimu, kamu temanku”
“Terimakasih sudah mengatakan tentang asal-usulmu, hal itu meringankan bebanku, aku sudah jatuh cinta pada seorang perempuan, bukan laki-laki”.
“Terima kasih telah mengingatkanku akan bahaya merokok”
“Apakah kamu akan berhenti merokok setelah ini?”
“Jangan meminta terlalu banyak Yan” katanya dengan tersenyum lebar.
“Ya, yang penting aku bukan seorang gay”, sahutku dengan nada riang.
PS: To all the smokers in the world. Dont u know that when u smoke u will make others surround u get sick??