| |
| Thursday, July 03, 2008 |
| Saya tidak menyesal menikah dengan Mas Dayat |
"Wah ternyata asal kita sama"
"Ya gak sama, saya dari Bojonegoro, sampeyan dari Babat"
"Samalah, masih satu daerah. Gak nyangka deh"
"Gak nyangka gimana???"
"Gak nyangka kalu ada ce dari bojonegoro secantik kamu"
"Dasar gombal......"
Saya masih ingat persis waktu, hari dan tanggal, percakapan itu terjadi...... 31 Maret 1990. Itu pertama kalinya saya mau meladeni omongan Mas Dayat, yang sebelumnya terus-menerus menggoda saya, saat saya lewat di depannya.
Nama saya Sumariyati, sulung dari empat bersaudara. Seperti pada umumnya penduduk di Bojonegoro, bapak dan ibu saya seorang petani. Lepas SMEA, saya dititipkan Bapak dan Ibu saya dirumah paklik di Surabaya.Kemudian saya dicarikan pekerjaan sebagai TU di sekolah Dharma Mulya oleh paklik. Di depan rumah paklik saya itulah saya dan Mas Dayat sering bertemu. Mas Dayat bekerja di Antika Raya yang tempatnya di depan rumah paklik saya.Dari percakapan pendek diatas itulah lama-lama saya mengenal Mas Dayat, bahkan sering pulang bareng ke Bojonegoro. Lama kelamaan saya simpati kepadanya. Dan kemudian kami berpacaran. Bukannya sombong memang paras saya cukup cantik, sehingga bayak cowok yang naksir pada saya. Tapi saya lebih memilih Mas Dayat yang pekerjaannya hanya sebagai tukang bersih mobil di Antika Raya.
Selang beberapa tahun kemudian kami memutuskan untuk menikah. Sebenarnya orang tua dan paklik saya tidak setuju hubungan saya dengan Mas Dayat, karena pekerjaan Mas Dayat yang tidak cukup keren dan karena Mas Dayat yang hanya lulusan SD. Tapi saya bersikeras. Saya yakin dialah jodoh yang dipilihkan Allah untuk saya. Setelah menikah, kami memutuskan untuk meninggalkan Surabaya. Saya berhenti bekerja, Mas Dayat juga. Kami berdua tinggal di rumah petak, bersebelahan dengan rumah kakak Mas Dayat di Babat. Meskipun rumah saya di Bojonegoro jelek, tapi rumah ini lebih parah dari rumah saya, apalagi kalau banjir.
Tapi saya tidak menyesal menikah dengn Mas Dayat.
Disana Mas Dayat membuka tambal ban dan reparasi sepeda ontel. Disela-sela waktu senggangnya, dia juga membuat sandal dari ban bekas. Sedangkan saya, bersama kakak ipar membuat jajanan khas Babat, yaitu wingko. Alhamdulillah wingko saya cukup laris. Sedikit-sedikit kami bisa menabung. Saya bahagia, apalagi, anak kami yang pertama sudah lahir. Tetapi perjalanan hidup memang tidak mulus, selalu ada turun naik. Krisis moneter datang. Usaha wingko saya tidak berjalan lagi. Kami tidak punya cukup modal untuk membeli bahan-bahan yang harganya selangit. Selain itu pesanan juga tidak ada. Toko-toko yang biasanya dititipi juga menolak. Sementara itu Mas Dayat sakit. Dia tidak bisa bekerja dan hanya bisa berdiam di rumah saja. Saya mengambil keputusan untuk bekerja di percetakan. Kami butuh uang, karena saya hamil anak kedua. Sekali lagi, meskipun saya yang harus mencari nafkah untuk keluarga.
Saya tidak menyesal menikah dengan Mas Dayat.
Bekerja di percetakan memang hasilnya lumayan. Tapi saya capek sekali. Kadang dari pagi, baru tengah malam saya nyampai di rumah. Tapi saya harus bekerja. Ternyata ujian dari Allah datang lagi. Mas Dayat terkena stroke. Dia tidak bisa apa-apa. Hanya berdiam saja di tempat tidur. Saya berhenti bekerja. Kami berobat kesana-kemari. Untung ada ASESKIN, jadi kami tidak perlu membayar. Saya bawa Mas Dayat ke rumah sakit umum di Babat. Sampai disana dokter angkat tangan. Saya dirujuk ke rumah sakit di Lamongan. Sampai Lamongan saya dirujuk ke Dr. Soetomo Surabaya. Saya menolak
"Disana gratis bu, tidak bayar, kan ibu punya ASESKIN" kata salah seoerang dokter "Iya pak, tidak bayar, tapi kalo harus riwa-riwi begitu kan transportnya mahal"
Bukannya saya tidak mau Mas Dayat sembuh, tapi saya memang sudah tidak punya uang lagi. Saya bawa Mas Dayat pulang ke Babat untuk mencari pengobatan alternatif. Sampai di Babat, ada salah seorang tetangga yang bilang kalo di Burno ada tukang pijit terkenal. Saya bawa Mas Dayat kesana. Sampai di sana mas Dayat disuruh menginap selama 10 hari. Alhamdulillah setelah itu Mas Dayat bisa jalan. Sementara itu untuk makan sehari-hari saya berjualan donat dan saya titipkan di pasar. Kalo lagi rame dengan modal 20.000 saya bisa dapat uang 45.000 Sampai sekarang saya masih tidak memperbolehkan Mas Dayat bekerja. Saya takut kalau di sakit lagi. Alhamdulillah lagi saya bahagia, suami saya sembuh.
Pernah saya bertemu dengan salah seorang cowok yang pernah naksir saya, dia bertanya "Apa kamu tidak menyesal menikah dengan Dayat?". Saya menjawab dengan tegas "Tidak, saya tidak meyesal menikah dengan Mas Dayat. Saya percaya bahwa dialah jodoh yang telah dipilihkan Alah untuk saya."
Buat Mbak Yat: "I admire U" |
posted by trois`ibu @ 8:01 PM  |
|
|
|
|
|
 |
|
IF YOU HAVE FURTHER QUESTIONS ABOUT THIS BLOG CONTENT
-----PLEASE FEEL FREE TO CONTACT ME------- AT:
ask_veni@yahoo.co.id.
TRANSFORMASI TROIS






|
|
|
|