my thought, words and activities

Thursday, November 10, 2011
Ali
Sebut saja namaku Ali, paling tidak begitulah emak memanggilku sehari-hari. Pekerjaanku sekarang adalah sebagai penjual pentol keliling Pekerjaan ini sudah kutekuni semenjak dua tahun yang lalu saat emak dipanggil oleh Allah. Kemana bapak?? Sampai sekarang aku tidak tau keberadaan bapakku. Ada yang bilang bapak mengais rejeki di negeri jiran dan tidak pernah kembali lagi, ada yang bilang bapakku ada di penjara, ada yang bilang bapakku sudah meninggal, entahlah aku tidak tau mana yang benar. Emak selalu menangis saat kutanya dimana bapak berada, aku tidak ingin membuat emak menangis, jadi aku tidak mau terus-terusan menanyakan dimana bapak.

Oh ya, emak meninggal karena sakit, aku juga tidak tau emak sakit apa, karena emak tidak mau bercerita tentang penyakitnya kepadaku. Emak kerja sebagai tukang cuci dan setrika keliling. Jadi kalau ada yang pingin nyucikan baju bisa panggil emakku, namun beberapa tahun terakhir pekerjaan emakku tergantikan oleh laundry-laundry kiloan yang semakin banyak menjamur di tempatku. Emak jarang dipanggil mencuci dan itu berakibat berkurangnya penghasilan emak.

“Hai Li, beli pentol ya, belum sarapan nih,”teriak Mbak Ningsih, salah satu langganan pentolku.
Sejenak aku tergagap dari lamunanku, dan dengan sigap aku membuka plastik, memasukkan pentol, tahu, gorengan dan saos sambal ke dalam plastik. Aku selalu suka melihat Mbak Ningsih di pagi hari, ketika bedak dan pemerah bibir masih merata di pipi dan bibirnya. Ketika senyumnya tersungging dan berkata ”Li, pentol ya, belum sarapan nih,” atau ketika dia mendecap-decap kepedasaan sambil memakan pentol.

”Hidup ini memang tidak adil ya Li,” kata Mbak Ningsih
”Kenapa mbak?”
”Liat orang di depan itu Li,” seraya jarinya menunjuk ke arah seseorang yang baru keluar dari sebuah mobil mewah. ”Hidupnya enak sekali, keturunan orang kaya, kalau minta apapun tinggal menjentikkan jari dan keinginannya akan terkabul, gak kayak hidupku.”
 ”Bukannya hidup ini adil mbak, makanya ada yang miskin ada yang kaya, ada anak berumur 15 tahun seperti aku yang yatim piatu dan berjualan pentol untuk hidup, sedang disana ada anak lain yang berumur 15 tahun hidup kaya raya serta disayang orang tua, dan begitu seterusnya, kalau gak ada orang miskin mana ada orang kaya mbak.”
”Kamu nggak pernah meratapi hidupmu Li.”
”Pernah mbak, awal-awal dulu waktu ditinggal sama emak, tapi sekarang sudah nggak lagi, soalnya meskipun saya meratap-ratap, emak saya juga tidak akan hidup lagi.”
”Halah Li, pinter omong kamu itu, yo wis, aku tak kerja dulu.”

Pak Awan adalah seseorang yang menolongku ketika emak meninggal, dia meminjamiku sejumlah uang dan menyuruhku berjualan. Pak Awan sangat baik kepadaku, meskipun kata orang-orang yang lain dia adalah lintah darat yang kejam. Pernah dulu Pak Awan mencoba merayu emakku dan ingin menjadikan emakku istri yang ketiga. Tentu saja emakku menolak mentah-mentah rayuan Pak Awan. Setelah mendapatkan pinjaman dari Pak Awan  dan bertanya sana-sini aku memutuskan untuk berjualan pentol.

Guram, salah seorang yang kuanggap sebagai teman tertua mengajariku cara membuat pentol. ”Ingat Li jangan lupa, setelah adonan pentol jadi kamu harus menghadap ke barat dan memutar-mutarnya selama lima kali searah jarum jam,” nasehat dari Guram itu tentu saja kuturuti sampai sekarang. Guram juga yang mengantarkanku membeli sepeda bekas dan peralatan lain untuk membuat pentol. Aku juga tinggal di rumah Guram, karena aku tidak bisa membayar kos kamar setelah ibuku meninggal, jadi Guram berbaik hati menwariku untuk tinggal di rumah kontrakannya

Guram adalah orang berpendidikan, pintar luar biasa, dulu dia kaya raya di desanya, dari keluarga kaya raya juga, keterpurukannya dimulai dari rayuan istrinya agar dia mencalonkan diri sebagai Kepala Desa. Semua uang, tanah dan rumahnya digunakan untuk menjadi modal agar dia terpilih menjadi Kepala Desa, toh nanti kalau ia terpilih semua hartanya itu pasti bisa tergantikan. Pada kenyataannya Guram tidak terpilih menjadi kepala desa. Sawah, rumah harta bendanya ludes semua, istrinya pun pergi meninggalkannya. Karena malu dengan orang tuanya dan penduduk desa, dia memilih merantau dan hidup sendiri seperti sekarang.
”Niatku salah Li, aku ingin menjadi lurah karana ingin uang dan kekuasaan, seharusnya menjadi seorang pemimpin adalah amanah bukan karena uang. Kadang aku bersuyukur kalah dari pemilihan itu, kalau tak kalah coba jadi apa aku, mungkin aku akan jadi orang yang suka korupsi, berusaha menghalalkan segala cara agar semua harta yang aku pertaruhkan akan kembali. Lagian kalau tidak begini aku juga tidak tau kalau istriku memilihku menjadi suami karena hartaku saja.”

.
Pertama kali berjualan pentol adalah saat-saat yang paling berat, karena aku belum tau dimana harus mangkal, jadi selalu berpindah-pindah dan daganganku sering tidak laku. Kalau sampai malam tidak laku, biasanya aku mampir ke salah satu panti asuhan di pertigaan Laguna dan pentolku itu kukasihkan ke ke anak-anak disana gratis. Pengasuh yang ada di panti asuhan itu juga pernah menawariku untuk tinggal disana. Tapi aku tidak mau, karena aku merasa sudah besar dan merasa sudah bisa mencari uang sendiri. Biarlah di panti asuhan itu dihuni oleh anak-anak kecil bermata polos, yang ditinggal bapak ibunya dan tentu saja mereka belum bisa menghidupi hidupnya sendiri.

Berdagang memang tidak selalu mulus, kadang habis, kadang sisa banyak, lebih susah lagi kalo hujan dan banjir, kalo sekedar hujan, masih bisa ada payung. Tapi kalo sudah banjir dan disertai angin kencang, wah bisa jadi males rasanya. Begitulah liku-liku mncari uang. Kadang-kadang aku ingat emak....kangen sekali rasanya, tapi Allah lebih mencintai emak, jadi Allah memanggilnya dulu. Meskipun keadaanku seperti ini, aku tetap bersyukur. Paling tidak aku masih bisa melihat emak, bayangkan saja anak-anak kecil di panti asuhan yang tidak pernah melihat emaknya, baru lahir sudah dibuang dan diletakkan sembarangan di pinggir jalan atau di depan pintu orang sampai ada orang yang menemukan dan berbelas kasihan kepadanya.

Sekali lagi kisah tentang Mbak Ningsih, dia merasa tidak bahagia dengan suaminya, karena suaminya adalah seorang laki-laki pengangguran, berwajah tampan, berhati jahat dan kerjanya cuma bisa minta uang. Mbak Ningsih sering mengeluh, kenapa dia menemukan jodoh yang tidak tepat.
”Li, kamu pernah bilang kalau perempuan yang baik akan mendapatkan laki-laki yang baik dan begitu juga sebaliknya. Menurutmu apakah aku perempuan baik-baik li?”
”Kalau  menurutku iya mbak.”
”Lalu kenapa aku mendapatkan seorang laki-laki yang tidak baik-baik?”
”Jangan begitu mbak, semua orang pasti bisa berubah, suatu saat nanti mungkin dia akan jadi laki-laki baik-baik.”
” Tapi kapan Li,” ujarnya dengan suara parau.
”Kenapa dulu Mbak memilih dia jadi suami kalau mbak tau dia seperti itu??” tanyaku ke Mbak Ningsih
”Entahlah Li, aku pikir karena dia datang di saat dan tempat yang tepat.”
”Maksudnya bagaimana itu mbak, aku kok jadi bingung?”
”Maksudnya kalau ingin mencari jodoh, carilah seseorang yang tepat, di saat dan di tempat yang tepat pula.”
”Tambah bingung aku mbak.”
”Nanti juga kamu tau,” ujar Mbak Ningsih sambil meringis memamerkan deretan giginya yang rapi.
”Tahukah mbak, kalau semua orang pasti punya salah, karena manusia itu tempatnya lupa dan salah, manusia yang baik adalah manusia yang mau mengakui kesalahannya, memperbaikinya dan tidak akan lagi mengulangi kesalahannya. Mbak, memaafkan orang yang salah akan memperingan beban kita sendiri, bahakan ada yang bilang kalau memaafkan orang yang salah akan mempermudah ajal kita nantinya. Suatu hari nanti saya yakin suami mbak akan berubah, banyak-banyak doa ya mbak.”
”Iya Li, terima kasih sarannya.”

Hari ini Ali sangat gembira, karena menurut perhitungannya hari ini adalah hari terakhir pembayaran utangnya ke Pak Awan, setelah itu berarti Ali sudah bebas dari hutang. Dengan tergesa-gesa dia mengenjot sepedanya ke rumah Pak Awan. Sampai rumah Pak Awan, Ali terkejut melihat Pak Awan terbaring lemas di kursi depan ditemani Bu Ana istri pertamanya.
”Pak ini cicilan hutang saya bulan ini,”ujar Ali pelan sambil mendekat ke arah Pak Awan.
”Sudah seminggu ini Pak Awan sakit Li, badannya lemas, tidak mau makan, sudah kubawa ke dokter, tetapi kata dokter Pak Awan tak sakit apa-apa,” kata Bu Ana sambil tangannya terus memijat kaki Pak Awan.
”Apa Bu Indun sudah tau kalau Pak Awan sakit?” tanya Ali kepada Bu Ana
”Justru Bu Indun yang membawa Pak Awan kesini, katanya sudah tak sanggup lagi hidup dengan Pak Awan yang sudah tua dan sakit-sakitan.”
”Pak Awan, kasihan Bu Ana, jangan sakiti dia lagi, coba kalau Pak Awan sakit seperti ini, sipa yang merawat kalau bukan Bu Ana,” bisik Ali pelan ke telinga Pak Awan.
”Bu Ana, ini cicilan saya,” Ali berdiri sambil menyerahkan sejumlah uang lecek yang sedari tadi sudah digenggamnya.
Bu Ana menerima uang dari tangan Ali sambil berkata, ”Sudah Li, kau simpan saja, ditabung ya, hutangmu sudah lunas,” kata Bu Ana sambil menyerahkannya kembali ke tangan Ali.
”Terimakasih Bu Ana,” mata Ali berkaca-kaca menerima uang dari Bu Ana.
”Semoga Pak Awan cepat sembuh.”
”Iya Li, terima kasih doanya.”

Ali segera pulang ke rumah kontrakan Guram, dia ingin berbagi cerita dengan Guram kalau utangnya ke Pak Awan sudah lunas.
”Guram hutangku sudah lunas,” teriak Ali ketika sampai di depan pintu rumah kontrakan Guram.
”Syukurlah Li, aku ikut senang,” tukas Guram dengan tersenyum
”Kenapa kamu bersedih li?”
”Aku teringat emakku Guram, aku ingin sekali bertemu emakku. Dia pasti ikut senang kalau tau hutangku di Pak Awan sudah habis. Beruntunglah kamu Guram, masih punya ibu dan bapak, tidakkah kamu ingin menemui mereka?”
”Tidak Li, aku malu, aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil”.
”Pulanglah Guram, ibumu pasti senang melihat anaknya yang sudah lama hilang telah kembali”.
”Entahlah Li, mungkin nanti...”

.
Saat itu udara sangat panas. Daun-daun gersang berguguran ditiup angin, mestinya saat ini sudah masuk musim hujan, tetapi matahari masih bersinar dengan garang. Ali mengayuh sepedanya perlahan. Tiba tiba terdengar bunyi ledakan keras, tabung elpiji yang diletakkan Ali di belakang sepeda meledak, Ali terpental jatuh ke jalan raya, sementara dari belakang melaju truk dengan kecepatan tinggi. Truk tersebut berusaha mengerem mendadak, tubuh Ali terseret bersama truk itu.
Orang-orang ramai berteriak, Ali melihat orang-orang mengerubunginya, dari kejauhan ada emaknya tersenyum melambai. Ali menyambut lambaian emaknya, ia bangkit dan berjalan bersama emaknya. Lalu mereka berdua berjalan bersama.


MBAK NINGSIH
Sudah beberapa minggu ini suami Mbak Ningsih diterima kerja di perusahaan ekspedisi. Perangainya juga berubah180 derajat, tak pernah lagi dia marah-marah seperti dulu. Bahkan dia sering mengingatkan Mbak Ningsih agar tidak pernah meninggalkan sholat.
”Kalau dengar adzan segeralah sholat Ningsih, pekerjaan yang lain bisa menyusul. Yang penting sholat dulu, menghadapkan diri ke Allah,” begitu katanya
Mbak Ningsih sangat gembira melihat perubahan suaminya, dia yakin suaminya berubah karena doa-doa yang terus diucapkannya, seperti yang disarankan Ali dulu.
Sebenarnya Mbak Ningsih ingin bertemu Ali untuk mengucapkan terima kasih, tetapi Ali tidak pernah berjualan lagi. Sampai pada suatu hari tempat mangkal Ali ditempati oleh penjual pentol yang lain.
”Dik, kenapa Ali tidak pernah berjualan pentol lagi,” tanya Mbak Ningsih
”Ali sudah meninggal tertabrak truk Mbak,” kata anak itu
Mbak Ningsih terkejut, air mata mengalir perlahan di pipinya, dia bahkan belum sempat berterima kasih ke Ali.

GURAM
Sesudah penguburan jenazah Ali, Guram pulang ke desa dan bertemu ibu bapaknya. Tentu saja ibu dan bapaknya sangat gembira. Si anak hilang telah kembali. Bahkan ibunya meminta dengan sangat agar Guram mencalonkan kembali menjadi Kepala Desa. Dengan berbagai pertimbangan Guram menuruti permintaan ibunya dan mendaftar untuk menjadi calon Kepala Desa, tentu saja kali ini niatannya menjadi Kepala Desa adalah untuk berbakti kepada desanya tercinta. 
Hari ini tepat satu tahun sesudah kematian Ali, Guram secara resmi terpilih menjadi Kepala Desa, Guram tersenyum sambil meneteskan air matanya mengingat Ali. ”Terimakasih Ali, karena nasehatmu aku bisa menjadi seperti ini”.

PAK AWAN.
Pak Awan sudah sembuh dari sakitnya, dia kini  memutuskan untuk berhenti menjadi lintah darat dan berdagang seadanya saja di pasar dekat rumahnya. Setelah Pak Awan sembuh, Bu Indun istri keduanya ingin kembali kepadanya. Tentu saja Pak Awan tidak mau, dia memilih menghabiskan masa tuanya dengani istri pertamanya, Bu Ana.
Sore itu Pak Awan berdiri di depan pintu memandang ke luar, dia teringat saat terakhir kali ketika dia sakit dan Ali membisikkan kata-kata kalau dia tak boleh lagi menyakiti Ana, istri pertamanya. ”Aku sudah menuruti nasehatmu Ali. Ya Allah, tempatkanlah di  surgaMu,” perlahan-lahan air mata turun membahasi pipi Pak Awan.
posted by trois`ibu @ 11:58 PM  

IF YOU HAVE FURTHER QUESTIONS ABOUT THIS BLOG CONTENT -----PLEASE FEEL FREE TO CONTACT ME------- AT: ask_veni@yahoo.co.id.

TRANSFORMASI TROIS

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

About Blog
.....dan semua akan baik2 saja karena Allah selalu melindungi kita...

Previous Post
Title
KATA KATA BIJAK Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah."-- Aristoteles, The Nicomachean Ethics. .
Links
Templates by
Free Blogger Templates