| |
| Tuesday, January 24, 2012 |
| Trois Khitan |
25 Desember kemarin Trois dikhitan. Sebenarnya rencana khitan sudah sejak bulan Juni waktu liburan sekolah kemarin. Tapi berhubung saya pergi ke Depok tiga minggu, maka Trois tidak jadi dikhitan. Setelah tertunda selama 6 bulan, akhirnya Trois jadi dikhitan. Trois di khitan dengan metode Smart Klamp.
Kronologinya seperti ini:
Sabtu, 24 Desember
Saya membawa Trois ke PHC untuk dikhitan. Sampai sana, dia malah lari ketakutan dan katanya tidak mau dikhitan. Terus ada Pak Satpam yang bilang ke saya kalau ada perawat yang bisa dipanggil ke rumah untuk mengkhitan, Pak Satpam itu juga memberi saya nama dan no telp perawat tersebut. Sampai rumah, saya telp perawat tersebut dan janjian dengannya untuk mengkhitan Trois Hari Minggu 25 Desember jam 15.30. Saya sekaligus bilang kalau misalnya dia datang dan Trois tidak mau disunat bagaimana? ternyata perawatnya sudah ahli mengkhitan anak-anak kecil dan dia bilang dia akan membujuk Trois.
Minggu 25 Desember
Tepat jam 15.30 Perawatnya datang, sebelumnya Trois sudah saya mandikan dan saya pakaikan baju dan sarung. Karena Trois tidak mau turun ke bawah, maka perawatnya yang naik ke atas. Sebelum mengkhitan perawatnya ngajak cerita-cerita dulu biar Trois tidak takut.
Proses khitan:
Trois disuruh tidur, tapi dia tidak mau, kata perawatnya tidak apa-apa, jadi disunat sambil duduk.Setelah itu sekeliling bagian yang akan dikhitan ditutup dengan kain. Bagian yang akan dikhitan dibersihkan terlebih dahulu dan setelah selesai dibersihkan diberi betadine. Oh ya, sebelum itu disuntik bius lokal dulu. Setelah dibersihkan kemudian dipasang alat dan dipotong kulitnya, terus alatnya ditutup. Seluruh proses kurang lebih hanya 15 menit. Trois pinter dan tidak menangis, bahkan dia melihat proses khitannya.
Perawatan sesudah khitan:
Sesudah buang air kecil alat (tabung) dibilas air dan diberi baby oil, kemudian diberi betadine. Pemakaian alat ini sampai lima hari. Setelah lima hari alat dilepas. Sebelum dilepas dianjurkan berendam dulu. Waktu itu karena kelalaian saya, sebelum dilepas alat Trois tidak berendam dulu sehingga waktu perawatnya datang alatnya dikasih betadine yang banyak baru dilepas. Waktu dilepas Trois nangis keras.
Perawatan sesudah alat dilepas:
Sesudah alat dilepas tidak boleh terkena air selama dua hari. kalau buang air kecil dikasih tisu basah dan dilap dengan tisu kering.Luka juga harus sering sering dikompres dengan kasa yang ditetesi betadine. Waktu penyembuhan untuk luka cukup lama, karena kulit di bagian bawah sulit kering . Untungnya ada yang memberi tahu untuk memberi perban sofra-tulle. Alhamdulillah setelah tiga minggu dari alat dibuka, luka Trois sudah kering.
Kalau menurut saya, sunat dengan smart klamp relatif singkat pengerjaannya dan minim rasa sakit. Akan tetapi perawatannya sangat ribet dan pasca penyembuhan relatif lama, kalau dibandingkan dengan keponakan saya yang khitan konvensional tidak sampai seminggu luka sudah kering. Berikut kelebihan dan kekurangan khitan dengan metode Smart Klamp (versi saya):
Kelebihan:
Waktu khitan cepat
Ttidak perlu jahitan
Tidak ada darah yang keluar, kalaupun keluar sedikit sekali karena kulit sudah dijepit dengan alat
Minim rasa sakit
Anak bisa langsung beraktifitas setelah sunat
Kekurangan:
Perawatan yang ribet, baik sebelum maupun sesudah alat dilepas
Proses penyembuhan yang lama
Berikut beberapa macam metode khitan yang saya dapat dari sini:
Pertama : METODE KLASIK & DORSUMSISI
Metode klasik sudah banyak ditinggalkan tetapi masih bisa kita temui
di daerah pedalaman. Alat yang digunakan adalah sebilah bambu
tajam/pisau/silet. Para bong supit alias mantri sunat langsung memotong
kulup dengan bambu tajam tersebut tanpa pembiusan. Bekas luka tidak
dijahit dan langsung dibungkus dengan kassa/verban sehingga metode ini
paling cepat dibandingkan metode yang lain. Cara ini mengandung risiko
terjadinya perdarahan dan infeksi, bila tidak dilakukan dengan benar dan
steril.
Metode Klasik kemudian disempurnakan dengan metode Dorsumsisi, Khitan
metode ini sudah menggunakan peralatan medis standar dan merupakan
khitan klasik yang masih banyak dipakai sampai saat ini. Di Sunda
dikenal dengan sebutan sopak lodong, umumnya bekas luka tidak
dijahit walaupun beberapa ahli sunat sudah memodifikasi dengan melakukan
pembiusan lokal dan jahitan minimal untuk mengurangi risiko perdarahan.
Kelebihannya peralatan yang digunakan lebih murah dan sederhana,
proses memakan waktu cukup singkat, sudah banyak dikenal masyarakat
biaya relatif lebih murah serta bisa digunakan untuk bayi/anak dibawah 3
tahun dimana pembuluh darahnya masih kecil. Kekurangannya risiko kepala
(glan) terpotong / tersayat sangat tinggi, terutama jika sayatan
dibawah klem koher, mukosa kadang lebih panjang sehingga membutuhkan
pemotongan ulang, bisa terjadi nekrosis jika jepitan koher terlalu lama,
risiko perdarahan tinggi apabila tanpa dilakukan penjahitan. operasi.
Kedua : METODE STANDAR SIRKUMSISI KONVENSIONAL
Merupakan metode yang paling banyak digunakan hingga saat ini, cara
ini merupakan penyempurnaan dari metode dorsumsisi dan merupakan metode
standar yang digunakan oleh banyak tenaga dokter maupun mantra
(perawat). Alat yang digunakan semuanya sesuai dengan standar medis dan
membutuhkan keahlian khusus untuk melakukan metode ini. ( Baca : Cara
Khitan Metode Standar).
Kelebihannya peralatannya sudah sesuai standar medis, menggunakan
pembiusan local dan benang yang jadi daging, risiko infeksi kecil dan
risiko perdarahan tidak ada. Metode ini cocok untuk semua kelompok umur,
biayanya cukup terjangkau serta pilihan utama untuk pasien dengan
kelainan fimosis. Kekurangannya membutuhkan keahlian khusus dari
pengkhitan dan proses waktunya antara 15-20 menit.
Ketiga : METODE LONCENG
Pada metode ini tidak dilakukan pemotongan kulup. Ujung penis hanya
diikat erat sehingga bentuknya mirip lonceng, akibatnya peredaran
darahnya tersumbat yang mengakibatkan ujung kulit ini tidak mendapatkan
suplai darah, lalu menjadi nekrotik, mati dan nantinya terlepas
sendiri. Metode ini memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar dua
minggu. Alatnya diproduksi di beberapa negara Eropa, Amerika, dan Asia
dengan nama Circumcision Cord Device.
Keempat : METODE KLAMP
Metode Klamp .,ini memilik banyak variasi alat dan nama walaupun
perinsipnya sama, yakni kulup (preputium) dijepit dengan suatu alat
(umumnya sekali pakai) kemudian dipotong dengan pisau bedah tanpa harus
dilakukan penjahitan. Diantaranya adalah : Gomco, Ismail Clamp, Q-Tan,
Sunathrone Clamp, Ali’s Clamp, Tara Clamp dan Smart Clamp. Di Indonesia
sendiri yang paling banyak berkembang adalah Metode cincin (Tara Clamp)
dan Smart Clamp.
Metode Cincin (Tara Clamp)
Dr. T. Gurcharan Singh adalah penemu Tara klamp pada tahun 1990
berupa alat yang terbuat dari plastik dan untuk sekali pakai. Di
Indonesia Metode Cincin dicetuskan oleh oleh dr. Sofin, lulusan
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan sudah
dipatenkan sejak tahun 2001.
Pada metode ini, ujung kulup dilebarkan, lalu ditahan agar tetap
meregang dengan cara memasang semacam cincin dari karet. Biasanya, ujung
kulup akan menghitam dan terlepas dengan sendirinya. Prosesnya cukup
singkat sekitar 3-5 menit. Kelebihan metoda ini adalah: – Mudah dan aman
dalam penggunaan, tidak memerlukan penjahitan dan perban,tidak
mengganggu aktivitas sehari-hari pasien,perdarahan minimal bahkan bisa
tidak berdarah,tidak sakit setelah khitan, tanpa perawatan pasca khitan
dan langsung pakai celana dalam dan celana panjang.
Metode Smart Clamp
Smart klamp merupakan metode dan teknik sunatan yang diperkenalkan
sejak tahun 2001 di Jerman dan penemunya adalah dr. Harrie van Baars.
Alat smart klamp terdiri atas beberapa ukuran, mulai dari nomor 10, 13,
16, dan 21. Untuk bayi, alat yang dipakai nomor 10, sedangkan orang
dewasa nomor 21. Alat ini terbuat dari dua jenis bahan kunci klamp,
yakni nilon dan polikarbonat yang dikemas steril dan sekali pakai. Tentu
saja lebih aman dan bebas dari penularan penyakit dan infeksi. Smart
klamp memberikan perlindungan luka dengan sistem tertutup. Luka sayatan
terkunci rapat, tidak memungkinkan masuknya kuman atau mikroorganisme
pengganggu.
Pada metode ini pasien akan diukur glandpenis-nya, ukuran 0-meter.
Setelah diberi anestesi lokal, secara hati-hati preputium dibersihkan
dan dibebaskan dari perlengketan dengan gland penis. Batas kulit
preputium yang akan dibuang ditandai dengan spidol. Tabung smart klamp
dimasukkan ke dalam preputium hingga batas corona gland penis. Lalu,
klamp pengunci dimasukkan sesuai arah tabung dan diputar 90 derajat,
hingga posisi smart klamp siap terkunci.
Setelah posisi kulit yang akan dibuang dipastikan sesuai rencana,
juga agar posisi saluran kencing tidak terhalang tabung. Berikutnya,
adalah mengunci klamp hingga terdengar bunyi “klik”. Sisi distal
preputium dibuang menggunakan pisau bisturi. Kemudian luka dibersihkan
dengan obat antiinfeksi dan dibungkus kasa steril. Hingga proses itu,
sunat ala smart klamp selesai.Setelah lima hari, smart klamp dilepas
dokter atau perawat dengan teknik yang sangat mudah.
Gomco : Klamp ini dibuat pertama kali pada tahun
1934 oleh Hiram S. Yellen, M.D. dan Aaron Goldstein. Alat ini terdiri
dari bel logam dan plat datar dengan lubang di dalamnya untuk
menempatkan keduanya dalam posisi yang sesuai. Terdapat sebuah sekrup
berbentuk lingkaran yang berfungsi memberikan tekanan.
Ismail Clamp :
Ismail Klamp ditemukan oleh Dr Ismail Md Salleh. Alat ini sebenarnya
hampir menyerupai alat klamp lainnya, hanya saja alat ini memiliki
mekanisme penguncian dengan sistem sekrup, sehingga pemasangan dam
pelepasan alat ini sangat mudah tanpa harus merusak alat ini. Saat ini
baru tersedia 2 ukuran untuk anak-anak
Q-Tan : Alat ini menyerupai Ismail Clamp hanya saja
sistem sekrupnya terkunci mati (irreversible locking system) sehingga
alat ini tidak mungkin di daur ulang kembali karena pembukaan alat ini
harus dengan dipotong. Alat ini belum diproduksi secara massal dan masih
merupakan prototype. Saat ini masih diadakan riset yang mendalam
sehingga alat ini layak untuk digunakan secara luas.
Sunathrone Clamp
: Sunathrone adalah metode sunat dengan kaedah terkini yang ditemukan
oleh Dr Mohammad Tasron Surat, dokter kelahiran Malaysia. Keistimewaan
Sunathrone ini adalah kerana praktis dan proses penyembuhannya lebih
cepat. Alat khitan sekali pakai ini akan tertanggal sendiri, serta tidak
memerlukan perawatan khusus. Setelah khitan dapat langsung memakai
celana dan beraktifitas tanpa rasa sakit.
Ali’s Clamp : Alat ini mirip dengan Smart Klamp, hanya
saja tabung klem-nya didesain miring dengan pertimbangan agar mengikuti
kontur glans penis
Metode Kelima : METODE “LASER” ELEKTROKAUTERY
Metode ini sedang booming dan marak di
masyarakat dan lebih dikenal dengan sebutan “Khitan Laser”. Penamaan ini
sesunnguhnya kurang tepat karena alat yang digunakan samasekali tidak
menggunakan Laser akan tetapi menggunakan “elemen” yang dipanaskan.
Alatnya berbentuk seperti pistol dengan dua buah lempeng kawat di
ujungnya yang saling berhubungan. Jika dialiri listrik, ujung logam akan
panas dan memerah. Elemen yang memerah tersebut digunakan untuk
memotong kulup.
Khitan dengan solder panas ini kelebihannya adalah cepat, mudah
menghentikan perdarahan yang ringan serta cocok untuk anak dibawah usia 3
tahun dimana pembuluh darahnya kecil. Kekurangannya adalah menimbulkan
bau yang menyengat seperti “sate” serta dapat menyebabkan luka bakar,
metode ini membutuhkan energi listrik (PLN) sebagai sumber daya dimana
jika ada kebocoran (kerusakan) alat, dapat terjadi sengatan listrik yang
berisiko bagi pasien maupun operator.
Untuk proses penyembuhan, dibandingkan dengan cara konvensional itu
sifatnya relatif karena tergantung dari sterilisasi alat yang dipakai,
proses pengerjaanya dan kebersihan individu yang disunat.
Keenam : METODE FLASHCUTTER
Metode ini merupakan pengembangan dari metode elektrokautery. Bedanya
terletak pada pisaunya yang terbuat dari logam yang lurus (kencang) dan
tajam. Flashcutter langsung dapat hidup (tanpa PLN) karena didalamnya
sudah terdapat energi dari rechargeable battery buatan Matshusita
Jepang.

Flashcutter pertamakali diluncurkan di Indonesaia tahun 2006
oleh Uniceff Corporation. Cara pemotongan pada khitan sama seperti
mempergunakan pisau bedah (digesek, diiris). Dalam hitungan detik
preputium terpotong dengan sempurna, (tanpa pendarahan, dan dengan luka
bakar sangat minimal).
Ketujuh : METODE LASER CO2
Istilah yang lebih tepat untuk “Khitan Laser” yang sesungguhnya
adalah dengan metode ini. Fasilitas Laser CO2 sudah tersedia di
Indonesia. Salah satunya, di Jakarta. Laser yang digunakan adalah laser
CO2 Suretouch dari Sharplan. Berikut tahapan sunat dengan laser
tersebut:
Setelah disuntik kebal (anaestesi lokal), preputium ditarik, dan
dijepit dengan klem. Laser CO2 digunakan untuk memotong kulit yang
berlebih.Setelah klem dilepas,kulit telah terpotong dan tersambung
dengan baik, tanpa setetes darahpun keluar. Walaupun demikian kulit
harus tetap dijahit supaya penyembuhan sempurna. Dalam waktu 10-15
menit, sunat selesai.
Apapun metode khitan yang digunakan pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Jadi "selamat memilih".
|
posted by trois`ibu @ 11:19 PM  |
|
|
|
|
|
 |
|
IF YOU HAVE FURTHER QUESTIONS ABOUT THIS BLOG CONTENT
-----PLEASE FEEL FREE TO CONTACT ME------- AT:
ask_veni@yahoo.co.id.
TRANSFORMASI TROIS






|
|
|
|